Menapak Jalan Kehidupan

Oleh : griyapucaksari | 29 Desember 2015 | Dibaca : 1043 Pengunjung

Hidup dapat diibaratkan suatu perjalanan, yaitu perjalanan lahiriah maupun perjalanan batiniah. Sebagai suatu perjalanan tentu ada awal dan ada akhir.
Perjalanan lahiriah berawal sejak kelahirannya dan berakhir sejak kematiannya. Sedangkan perjalanan batiniah berawal sejak Sang Atman mengambil wujud sebagai manusia atau sejak diciptakan sebagai manusia dan berakhir sang atman lepas dari kungkungan badan, menyatu kembali dengan sumbernya yaitu Tuhan.
 
Penciptaan Alam Semesta
Keberadaan alam semesta beserta segala isinya termasuk manusia merupakan kehendak dari Tuhan.
Sebelum alam semesta ini tercipta, yang ada hanya satu zat yang maha sadar yang memenuhi seluruh ruang yang tak terukur luasnya dan memenuhi seluruh waktu yang tak terhitung lamanya.
Tuhan yang maha sadar dengan kesadaranNya menciptakan alam semesta dengan segala isinya termasuk manusia dari dirinya sendiri dalam satu sisi sebagai Purusa dan Predana pada sisi yang lain.
Purusa adalah zat kerohanian  yaitu Tuhan itu sendiri yang penuh kesadaran dengan sifat-sifatNya antara lain kekal, terang, suci dan merupakan kebenaran  yang sejati.
Predana yang juga disebut Prakerti adalah zat kebendaan atau materi tanpa kesdaran dengan sifat-sifat antara lain tidak kekal, gelap, tidak suci, tidak benar atau maya dari pertemuan zat yang dualisme itu terciptalah  alam semesta dengan segala keaneka ragamannya.
Benda-benda angkasa seperti matahari, bintang, bulan dan bumi termasuk kehidupannya seperti tumbuh-tumbuhan, binatang dan manusia yang mengandung unsur-unsur rwa bhineda berpotensi terjadi gesekan, benturan atau konflik yang bisa mengakibatkan  kehancuran.
Tuhan yang maha sadar menyadari penuh hal itu karenanya bersamaan dengan penciptaan Tuhan juga berkehendak melakukan pemeliharaan, dengan sabda-sabdaNya yang dibukukan menjadi kitab suci (weda) memberi petunjuk, bimbingan dan tuntunan agar manusia dalam menjalani kehidupannya hanya melakukan yang benar dan menjauhkan hal yang tidak benar dengan memberi pahala atas perbuatan yang baik atau yang dianjurkan dan perbuatan yang tidak baik  atau yang dilarang yang lazim disebut sebagai hokum karma pala.
Seperti telah dikemukakan manusia terdiri atas dua unsur yaitu unsur badan atau materi dan unsur batin yang masing-masing mempunyai kepentingan yang berbeda.
Unsur badan dengan indra-indranya mempunyai keinginan yang tidak terbatas dari objek-objek materi di dunia luar, sedangkan batin mempunyai hanya satu keinginan atau kehendak yaitu agar Sang Atman lepas dari kungkungan badan menyatu kembali kepada sumbernya yaitu para atman (Tuhan).
Menyinggung masalah kehendak dan keinginan perlu mempunyai pemahaman tentang artinya masing-masing. Dalam buku Sai Meditasi (sebuah petinjuk praktis) yang disusun oleh Drs. Gede Arsa Dana dan Prof.Dr. I Wayan Jendra, SH. dijelaskan : 
“Kehendak atau  sifat Tuhan  dan disebut juga sebagai  Hukum Tuhan. Kehendak berhubungan ciri asasi atma. Keinginan  berhubungan vasanas atau kebiasaan  yang tertanam dalam manas. Keinginan berarti ketagihan untuk memperoleh sesuatu. Kehendak adalah ketetapan hati atau kebutuhan tekad untuk mendapatkannya.”
Tuhan tidak mampunyai keinginan karena semua yang ada adalah dirinya. Bagi Tuhan apapun kehendakNya  bisa terjadi karena Tuhan Maha Kuasa. Secara garis besar kehendak Tuhan ada 3 yaitu : Penciptaan, Pemeliharaan, dan Pralina / Peleburan.
Posisi indra-indra yang berhadapan langsung  dengan dunia luar lebih mudahdan lebih cepat mendapat pengaruhdari dunia luar yang menjanjikan kenikmatan dan kepuasan lahiriah. Kondisi yang demikian membuat pikiran condong memilih jalan lahiriah untuk mencari dan mengejar kepuasan lahiriah yang berada didunia luar yang dipercaya hal itu membuat dirinya berbahagia, ternyata kepuasan yang diperoleh hanya bersifat sementara. Kegagalan pencapaian kebahagiaan ini tidak mambuat surut dalam pencarian, yang dicari kepuasan dan kepuasan yang diproyeksikan didepan dalam khayal yang jauh dari saat sekarang, sehingga apa yang semestinya dicari di sini dan saat ini terlupakan. Bahwa sesungguhnya apa yang mau dicari ada disini dan ditemukan saat ini yaitu suatu yang kekal penuh damai itulah atman diri sejati yang merupakan kebenara tertinggi, sedangkan badan tempat Sang Atman bersemayam merupakan diri yang tidak sejati karena bersifat sementara yang tidak  kekal tidak benar atau maya.
Dalam mengarungi kehidupan dijalan lahiriah sering kita dihadapkan dengan adanya peristiwa-peristiwa baik yang menyenangkan maupun yang tidak menyenangkan. Saat peristiwa yang menyenangkan terjadi segera disambut dan diterima dengan suka cita dengan gelak tawa yang riang. Sebaliknya saat peristiwa yang tidak menyenangkan terjadi segera pikiran menyikapi dengan penolakan disertai penilaian dan penghakiman mencari sumber penyebab dengan mempersoalkan siapa yang bersalah. Sementara suasana kehidupan diliputi rasa duka, penyesalan dan keresahan diikuti isak tangis kesedihan.
Dapat dipastikan utamanya bagi mereka yang menempuh jalan lahiriah hampir semuanya mengalami pasang surut suka-duka atau derita, bahwa suka yang sesaat disusul duka atau derita yang berkepanjangan. Ternyata hidup dijalan lahiriah tidak ada ujungnya, yang ada hanya kepedihan dan kepedihan. Bahkan pada waktu inkarnasi dalam kelahiran berikutnya kepedihan terus dibawa sebagai karma buruk.
Pengalaman yang pahit dan derita yang berkepanjangan membuat orang bertanya-tanya dalam perenungan, menyelam di kedalaman batin mencari akan permasalahan menemukan jawaban bagaimana memandang dan menyikapi hidup yang benar agar suka yang didapat bisa dipertahankan tanpa diikuti duka atau penderitaan yang dalam. Bahasa Bali dikenal dengan ungkapan “suka tan mewali duka” itulah kebahagiaan yang abadi. Di sini, di hati yang paling dalam ada jawabannya seperti yang dinyatakan dalam Bhagawat Gita Sloka 2, 66 sebagai berikut :
“Orang yang tidak mempunyai hubungan dengan Yang Maha Kuasa tidak mungkin memiliki kecerdasan rohani maupun pikiran yang mantap; Tanpa kecardasan rohani dan pikiran yang mantap tidak mungkin ada kedamaian; Tanpa kedamaian mana mungkin ada kebahagiaan ?”
Menyimak Sloka 2, 66 tersebut ternyata bahwa tiada kebahagiaan tanpa kedamaian, tiada kedamaian tanpa kecerdasan dan pikiran yang mantap, tiada kecerdasan dan pikiran yang mantap ada hubungan dengan Yang Maha Kuasa. Jadi kuncinya untuk mendapatkan kebahagiaan kita harus ada hubungan dengan Yang Maha Kuasa.
Pertanyaannya :
“Dimana dan kapan kita bisa mengadakan hubungan dengan Tuhan?”
Jawabannya :
“Disini dan saat ini.”
Yang dimaksud disini adalah di dalam badan, di hati tempat Sang Atman bersemayam. Caranya dengan menerobos masum melewati 21 lapisan tubuh yang menyekat antara Tuhan dan Sang Atman. 21 lapisan tubuh dimaksud adalah :
1. Panca Jnandria (lidah, hidung, mata, telinga dan kulit),
2. Panca Taumatra (ganda / bau, rasa / lidah, rupa / warna, apasa / sentuhan, sabda / bunyi),
3. Panca Maha Butha (pertiwi / tanah, apah / air, teja / api, bayu / udara dan akasa),
4. Panca Maya Kosha (anna maya kosha / badan wadah, prana maya kosha / badan etherik, mono maya kosha / badan mental, jnana maya kosha/ badan kecerdasan, Ananda maya kosha / badan kebahagiaan) murnikan jiwa.
Lapisan-lapisan tersebut adalah lapisan kegelapan. Menyingkirkan kegelapan ialah dengan cara menghadirkan terang, karena gelap tidak pernah mau bersanding dengan terang. Menghadirkan terang adalah dengan cara mengucapkan om kara 21 kali.
Yang dimaksud saat ini adalah sekarang yaitu batas antara masa lalu dan masa depan. Pada saat ini atau sekarang Tuhan sebagai sang pencipta sedang bekerja melaksanakan tugas pemeliharaan  terhadap ciptaannya yaitu alam semesta beserta segala isinya termasuk manusia berdasarkan Rta (hukum). Saat ini Tuhan menetapkan pahala atas karma-karma masa lalu yang baik maupun yang buruk.
Dengan mengadakan hubungan dengan Yang Maha Kuasa seseorang akan mendapat kecerdasan secara rohani karena sang atman bertemu dengan sumbernya Yang Maha Cerdas.
Seseorang dapat dikatakan cerdas secara rohani apabila ia dapat memahami dan menyadari bahwa dirinya yang sejati bukanlah badan, bahwa dirinya yang sejati adalah Atman (percikan Tuhan). Orang yang cerdas secara rohani memiliki pengetahuan wiweka, yaitu bisa memilah dan memilih adanya dua hal yang berbeda (ruwa bineda) yang satunya adalah sifat-sifat Tuhan (Sang Pencipta) seperti kekal, benar suci, terang dan damai. Satunya lagi sifat-sifat ciptaannya seperti tidak kekal, tidak benar, tidak suci, gelap dan resah.
Dengan memiliki kecerdasan secara rohani kita bisa memandang dan menyikapi hidup ini secara benar. 
Tentang pikiran kiranya hampir semua orang mengetahui bagaimana sifat pikiran yang tidak pernah mau diam selalu bergerak seperti kera, melompat kesana kemari, tidak mau tinggal di tempat walau hanya sesaat. Kadang-kadang pikiran bergerak kemasa lalu, kemudian bergerak kemasa depan, jarang betah tinggal disaat sekarang. Perginya pikiran kemasa lalu mengundang rasa bersalah dan penyesalan karena dimasa lalu dilihat adanya keadaan sebagai penyebab timbulnya nasib buruk yang dialami saat ini. Perginya pikiran kemasa depan mengundang adanya perasaan resah, gelisah atau takut akan bayangan-bayangan seperti kehilangan harta benda karena dicuri atau terbakar, ditinggal oleh orang-orang yang dicintai dan terutama takut akan kematian. Dengan mengetahui  sifat-sifat pikiran seperti itu maka pikiran harus dikendalikan agar mau tinggal di sini dan saat ini sudah tentu itu bukan hal yang mudah. Dibutuhkan suatu ketetapan hati yang mantap, disertai tekad yang kuat dan disiplin yang tinggi serta keyakinan yang penuh. Salah satu caranya ialah dengan penyerahan diri sepenuhnya dan seutuhnya kepada Tuhan sebagaimana halnya dalam Bhagawat Gita Arjuna menyerahkan diri kepada Krisna yaitu sebagai kusir  keretanya dan memegang tali kendali kuda-kudanya. Kemanapin kereta  dibawa dan apapun yang terjadi adalah kehendaknya.
Pikiran yang selalu menerima apa adanya  disertai keyakinan bahwa apapun yang terjadi adalah kehendak-Nya dan kehendak-Nya adalah yang terbaik pasti membawa kedamaian.
Apabila kepuasan disertai kedamaian  itulah kebahagiaan tujuan hidup dijalani batiniah.
 
 
Daftar Pustaka
 
Kasturi N. 1987, Sadhana Spiritual (terjemahan I Dewa Gede Malih), Paramita Surabaya.
Agast I. B. G. Eksistensi Sadhaka, Pustaka Mank Gede, 2001.
Eckharl Tolle, The Power of Nan, Pedoman Menuju Pencerahaan Spiritual, BIP, 2004.
Arsa Dana Drs Gede, Jendra, Prof Dr I Wayan, Sai Meditasi (Sebuah Petunjuk Praktis) 2003.
Suanbha Drs I B P. Om Pranawa, Dharmapadesa Pusat 2004.


Oleh : griyapucaksari | 29 Desember 2015 | Dibaca : 1043 Pengunjung


Berita Lainnya :

Lihat Arsip Berita Lainnya :