MENCELAKAI DIRI DENGAN KEBOHONGAN

Oleh : griyapucaksari | 02 Januari 2020 | Dibaca : 59 Pengunjung

Seseorang mendapatkan kepercayaan dari orang lain disebabkan oleh kejujuran dan selalu menepati janji yang ia ucapkan dan selalu perbuatannya sesuai dengan ucapan yang dikemukakan. Kepercayaan seseorang akan semakin luntur bila dirinya telah mulai mengikis kejujuran yang ada dalam dirinya sendiri, serta semakin jauh perbuatan yangi ia lakukan terhadap apa yang dikatakan, disamping itu tak pernah mengakui kesalahan sendiri, apalagi mau memperbaikinya.

Sekali saja seorang berbuat tidak jujur atau berbohong maka ia harus segera memperbaikinya dan tak boleh mengulanginya lagi, karena bila kebohongan yang ia perbuat tidak segera diluruskan maka orang mulai kurang percaya pada dirinya. Apalagi melakukan kebohongan untuk kedua kalinya dan terus menerus, maka sudah pasti orang berpikir seribu kali untuk mempercayainya, bahkan orang lain bisa sama sekali tidak punya kepercayaan lagi kepada sang pembohong.

Jika kita tanya pada relung hati kita masing-masing, apakah kita senang dibohongi mungkin jawabannya hampir semua orang pasti tidak senang dibohongi karena kebohongan adalah pangkal kejahatan serta akan mengakibatkan rasa jengkel, sakit hati dan kebencian yang mendalam bagi orang yang tidak suka dibohongi dan tak suka memaafkan, bisa juga berakibat fatal bila kebohongan itu diketahui oleh orang yang dibohongi. Contoh Karna menyimpan kebohongan terhadap gurunnya sehingga suatu saat ia disuruh menjaga gurunya yang sedang tertidur. Pada saat tertidur ada laba-laba datang diatas pahanya serta menggigitnya sampai pahanya mengeluarkan darah, namun ia tetap membiarkan laba-laba menggigit pahanya karena bila ia mengusirnya takut gurunya terjaga dari tidurnya. Ia tetap menahan gigitan laba-laba tersebut sampai gurunya terbangun, pahanya dibiarkan berlumuran darah demi ketenangan tidur gurunya.

Akhirnya, gurunya terjaga dan melihat paha Karna penuh darah akibat gigitan laba-laba tersebut. Saat itulah gurunya kaget karena baru sadar, bahwa Karna bukanlah seorang Brahmana, tetapi Kesatria karena hanya seorang kesatria yang dapat menahan rasa sakit dari gigitan laba-laba seperti yang dirasakan Karna, ia merasa dibohongi.

Saat mengetahui, bahwa karna adalah seorang kesatria, berarti Selama ini karna telah membohongi gurunya. Guru karna telah merasa dibohongi oleh muridnya, maka gurunya murka, serta mengutuk karna kapan ia memerlukan ilmu yang telah diberikannya pada saat itilah ilmunya akan lenyap dan tak dapat digunakan lagi. Kutukan ini benar-benar ia terima dan menjadi kenyataan pada saat karna berperang tanding menghadapi saudara sendiri, yaitu Arjuna. Pada saat ia memerlukan kesaktian, ilmunya lenyapa dan tak dapat digunakan dan karna sadar akan kutukan gurunya, maka terpanggillah kepala karna  oleh anak panaha Arjuna, tewaslah di perang Bharata yudha di tangan Arjuna.

Demikian pula dengan halnya Ibu Pandawa. Dewi kunti yang cukup lama memendam rahasia atas kebohongan, bahwa karna anaknya pertama dan baru terbuka pada saat karna tewas di medan pertempuran melawan Arjuna, saat itu kunti meratap kematian anaknya yang paling sulung. Anak-naka Dewi Kunti, Panca Pandawa tidak mengerti mengapa kunti meratapi kepergian karna padahal ia hanya anak seorang kusir kereta dan musuh bebuyudan arjuna. Ada saat yudistira menanyakan hal itu, maka baru diketahui bahwa karna adalah kakak sulungnya  setelah dijelaskan oleh dewi kunti. Pada saat itulah Yudistira mengatakan wanita tidak akana bias memendam rahasia ketidak benaran yang terlalu lama.

Contoh lain tentang kebohongan dari seorang anak  yang durhakan terhadap ibinya sendiri, yaitu Malin Kundang setelah menjadi anak yang kaya, ia melupakan dan berbohong serta tidak mengakui ibunya sendiri. Seorang ibu adalah sesosok manusia yang juga punya batas kesesabaran, karena sudah kelewat batas dan tak dapat menahan derita oleh anaknya sendiri, maka Ibu Malin Kundang mengutuk si Malin Kundang. Akhirnya malin kundang kena kutukan  akibat kebohongan dan ketakaburannya sendiri.

Begitu halnya dengan tipu muslihat atau kebohongan-kebohongan yang dilakukan oleh Sakuni, Duryodhana  serta komplotan korawa terhadap panca pandawa dalam cerita Mahabarata akhirnya Sakuni dan kelompoknya hancur oleh kebohongan, penipuan dan kejahatan sendiri.

Dari uraian diatas, maka dapat disimpulkan, bahwa bagaimana bentuk kebohongan atau ketida jujuran atau ketidakbenaran pada akhirnya akan menjerat, mencelakai serta menghancurkan diri si pembohong itu sendiri.         


Oleh : griyapucaksari | 02 Januari 2020 | Dibaca : 59 Pengunjung


Berita Lainnya :

Lihat Arsip Berita Lainnya :