MANISNYA KEJUJURAN

Oleh : griyapucaksari | 03 Januari 2020 | Dibaca : 98 Pengunjung

Pagi itu, mentari telah tersenyum dengan sinar keemasannya di ufuk timur mengawali setiap aktivitas seisi alamraya ini. Namun wajah, seorang bocah laki-laki pagi itu penuh kesedihan dan penuh harapan memohon agar Ibu yang dia sayangi dan dia hormati tidak dipanggil oleh maut karena penyakit yang diderita sangat parah.

Saat anaknya berada didekatnya sambil membelai kepala anaknya sang ibu memberi petuahnya yang terakhir : “Anakku kau adalah anakku satu-satunya, anakku yang nantinya meneruskan cita-cita ayahmu yang telah lama meninggalkan kita, ingat nasehat ayahmu laksanakan segala kewajibanmu dan lakukan semua aktivitas dengan penuh tanggung jawab serta ingat kata ibu, jangan sampai kau melupakan kejujuran, apapun alasanmu janganlah berbuat tidak jujur karena Ketidakjujuran adalah ketidak benaran. Laksanakan tugas dan kewajibanmu dengan didasari dengan kebenaran !” Setelah mengucapkan nasihat yang terakhir itu. Ibu bocah tersebut menutup matanya dan tak akan terbuka lagi selamanya. Ibu bocah tersebut telah memenuhi panggilan yang Maha Kuasa. Kisah tangis kepiluan bocah yang bernama Satya itu pun memecah keheningan rumah gubuk bambu dan seakan memanggil kedatangan tetangganya untuk mengetahui apa yang  terjadi. Semua tetangganya membantu Satya untuk menguburkan jenazah ibunya dan semuanya memberikan bantuan baik moral maupun material.

Kini, Satya sebatang kara yang ditinggal oleh ayah dan ibunya. Satu hal yang terngiang ditelinganya  adalah nasihat ibunya tentang kejujuran. Setiap hari, Satya menjalankan tugasnya menjajakan pisang goreng yang diberikan oleh tetangganya di sekitar sekolah dekat tempat tinggalnya. Dalam hatinya selalu bertanya pada dirinya sendiri : “Kapan saya bisa sekolah lagi seperti teman-teman tempat saya berjualan pisang goreng?”. Cita-cita tidak pernah pudar, dalam lubuk hatinya, untuk melanjutkan sekolah. Sejak ditinggal ayahnya, Ia berhenti sekolah sejak kelas 2. Jangankan bersekolah makanpun ia harus banting tulang menjajakan pisang goreng. Setelah itu ia bekerja sebagai pencuci piring dagangan tetangganya untuk membantu pembiayaan saat ibunya masih dalam keadaan sakit.

Pada hari kasih Sayang, Satya seperti biasa menjajakan dagangnya di depan SD dekat tempat gubuknya, tiba-tiba ada seorang bapak setengah baya membeli pisang gorengnya, saat ia mengantarkan anakannya ke sekolah tempat Satya berajualan. Setelah membayar pisang goreng yang dibeli oleh bapak itu, kemudian bapak itu pergi dengan mobil yang dibawanya. Entah mengapa pada saat memasukkan dompet  ke kantongnya ternyata dompetnya jatuh. Pada saat itu Satya tidak mengetahui hal itu karena sedang sibuk meladeni pembeli pisang goreng yang lain.

Setelah pisang goreng habis terjual. Satya beranjak akan pulang, tetapi beberapa langkah Satya merasa kakinya menginjak sesuata kumudian Satya melihat benda yang mengusik perasaannya ternyata sebuah dompet coklat. Satya perlahan mengambil dompet itu dengan berbagai pertanyaan diantaranya “Siapa yang punya dompet yang jatuh ini ?”. Apakah isi dompet ini ?”. Apakah saya harus kembalkani atau kah saya ambil ?”. Dan pertanyaan yang lain mencekek dirinya.

Satya tertegun sejenak dan ragu membuka isi dompet tersebut, pada saat itu nasihat ibunya terakhir terngiang dan bertengkar dengan keinginannya untuk mengambil dompet itu. Karena nasihat yang diberikan oleh ibunya untuk berbuat jujur, maka dompet itu dibuka untuk mengetahui siapa tahu ada KTP di dalamnya. Setelah dibuka ternyata dugaan Satya benar selain ada KTP ada SIM dan beberapa surat penting lainnya serta uang sejumlah Rp. 1.000.000,-. Setelah diperhatikan dan dibaca KTP yang ada di dalam dompet yang ia pungut ternyata milik Pak Darma yang tadi membeli pisang gorengnya. Dengan selalu mengingat nasihat ibunya ia harus selalu jujur, maka dibawalah dompet tersebut ke alamatnya pak Darma.

Di rumah Pak Darma nampak Pak Darma sedang bingung mencari sesuatu yang tampaknya penting bagi Pak Darma. Pak Darma kelihatan sibuk mencari-cari sesuatu dan menanyakan kepada ibunya : “Bu, ada melihat dompet bapak?”. Akhirnya Pak Darma sudah putus asa, ia kemudian duduk di kursi untuk menenangkan pikirannya sambil berdoa supaya dompetnya ketemu.

Setelah beberapa menit kemudian, suara ketukan pintu terdengar oleh pak darma dan muncul satya sambil mengucapkan : OM, Suastiastu” dijawab oleh pak darma :” om suastiastu “ dan mempersilahkan satya masuk dan duduk di kursi ruang tamunya. “Kok tumben satya, ada apa ?” Tanya pak darma. “ Saya kesini menyampaikan dompet bapak yang tercecer dijalan dekat saya berjualan, setelah saya buka ternyata dompet ini milik bapak, jawab satya. Semua isi dompet masih utuh pak ! Satya dengan sopan menjawab pertanyaan Pak Darma.

Pak Darma kaget dan segera bersyukur apa yang dicari sudah ketemu. Pak darma benar benar bahagia karena setelah diperiksa isi dompet utuh semuanya. Pak Darma mengucapkan terima kasih kepada satya dan memberi uang Rp.100.000 kepada satya, namun satya tidak mau menerima karena ia mengetahui semua itu ia lakukan dengan tulus iklas. Setelah mendengar jawaban satya, Pak darma benar benar kaget dan tersentuh hatinya, lalu pak darma menanyakan tentang sekolah satya.

Satya menceritakan tentang dirinya sebatang kara dan putus sekolah. Pak Darma menawarkan satya menjadi anak angkatnya dan bekerja di rumahnya dan membantu ibu dan pak darma dan ia akan disekolahkan. Satya yang sejak dulu memimpikan ingin melajutkan sekolahnya menerima dengan senang hati tawaran pak darma. Mendengar pengakuan satya yang jujur, Ibu darma sangat setuju dengan rancana pak darma. Ibu darma dan anaknya sebaya dengan satya. Satya tinggal di keluarga pak darma sangat rajin membantu dan belajar dengan tekun bersama anaknya pak darma. Ia tak pernah melupakan nasihat-nasihat ibu dan ayahnya agar selalu rendah hati dan selalu melakukan kejujuran.

Dengan semangat perjuangan yang tinggi dan tekun belajar, Satya dan anaknya Pak Darma keduanya melanjutkan sekolah ke perguruan tinggi sampai keduanya mencapai cita-citanya menjadi dokter.

Satya mulanya sebatang kara sangat miskin, kini telah menjadi orang yang sukses dan selalu rendah hati serta jujur dalam melaksanakan pekerjaannya.

Keluarga pak darma sangat sayang dengan satya sudah dianggap seperti anak kandungnya sendiri. Demikian kemujuran yang diperoleh Satya, karena satya selalu melakukan kejujuran dan ia tidak lagi sebatang kara tetapi punya keluarga yang sangat menyayanginya.

Betapa manisnya buah dari pohon kejujuran yang subur penuh kasih sayang, seperti ibu Satya walaupun dalam kemiskinan namun ia kaya dengan kejujuran, rendah hati dan kasih sayang.


Oleh : griyapucaksari | 03 Januari 2020 | Dibaca : 98 Pengunjung


Berita Lainnya :

Lihat Arsip Berita Lainnya :