TABAH MEMBAWA BERKAH, HORMAT MEMPEROLEH RAHMAT

Oleh : griyapucaksari | 05 Januari 2020 | Dibaca : 18 Pengunjung

Dalam kehidupan di dunia ini, setiap orang melaksanakan aktifitas dan kewajibany masing-masing sesuai dengan karma yoganya. Keberhasilan dalam melaksanakan tugas sergantung dari sejauh mana dari keseriusan, keinginan kita menyelesaikan tugas itu, ketabahan seorang menghadapi segala riak gelombang cobaan dan rintangan yang ia hadapi dan banyak lagi hal yang menentukannya seperti faktor kesehatan, kepintaran dalam membagi waktu dan lain sebagainya. Namun, setiap aktifitas dan kewajiban yang dilaksanakan memiliki hikmah tersendiri, seperti cerita berikut ini.

Tersebutlah seorang anak kecil bernama Ramsadhu, dilahirkan di suatu desa terpencil jauh dari keramaian kota. Ia merupakan anak sulung dari tiga bersaudara Ramsadhu merupakan sosok manusia yang memiliki kecerdasan dan cepat memahami apa yang disarankan oleh orang tuanya serta memiliki rasa hormat dan sayang kepada sesamanya. Sejak kecil ia ditempa oleh orang tuanya menjadi anak yang berani dan tabah menghadapi segala rintangan dan cobaan yang menghadang di setiap tugas dan aktivitas yang dilakukannya serta menyayangi dan menghormati orang yang lebih tua, sebaya dan lebih kecil darinya. Karena, setiap hari sebelum tidur ia selalu didongengi tentang kehidupan yang selalu didasari dengan kebenaran, didalam kebenaran itu ada kemenangan. Oleh karena itu Ramsadhu selalu mengingat,bahwa kebenaran akan memberi keberanian dan ketabahan. Suatu hari, ia ditugaskan oleh orang tuanya untuk menjemput adiknya pulang dari sekolah saat itu cuaca dalm keadaan mendung tanda segera turun hujan. Suara halilintar menggelora, Ramsadhu pun mulai berpikir untum mencari-car akal menjemput adiknya supaya tidak kehujanan, ia bergerak mencari dua tangkai pelepah daun pisang dipergjnakan sebagai payung. Ramsadhu berjalan menelusuri jalan setapak dengan membawa pelepah daun dengan tenang dan selalu berharap agar hujan jangan turun dulu.

Alam pun tidak bisa diajak kompromi. Ari hujanpun turun dengan lebatnya diiring cahaya kilat dan suara gemuruh halilintar. Ramsadhu tetap berjalan menuju adiknya dijempurt. Adiknya ditemukan dalam keadaan basah kuyup, betapa senang adkiknya setelah melihat Ramsadhu datang menjemputnya.

Ramsadhu memberi setangkai pelepah daun pisang yang dibawanya kepada adiknya digunakan sebagai payung. Hari semakin gelap jalan mulai licin sekali diterangi oleh sinar kilat petir, adik Ramsadhu sangat ketakutan sambil menggigil kedinginan. Seja semakin redup dan malam pun hadirpunuh kregelapan. Jalan sudah tidak terlihat oleh dua bersaudara tersebut. Kedua bersaudara pun berjalan dengan hati-hati, karena jalan mulai tidak terlihat lagi, dalam hati Ramsadhu ada keraguan antara takut dan berani, namun ia selalu mengucapkan nama tuhan (OM)untuk menghalau rasa takut itu. Perlahan hatinya semakin tenang dan muncul keberanian menghadapi kegelapan. Adiknya menagis ketakutan dan Ramsadhu menghibur dan menasehatinya supaua selalu mengucapkan (MO) damam hatinya ,adiknya mengikutu saran kakaknya. Keduanya berjalan terus sambil mengucapkan Mo,Mo...,Mo selama dalam perjalannan pulang. Akhirnya kedua bersaudara itu sampai di pondoknya yang disambut dengan rasa syukur dan bahagia oleh kedua orang tuanya.

Begitu pula dengan kisah Panca Pandawa yang selalu tabah menghadapi segala cobaan, hinaan, irihati dari korawa, pada akhirnya dengan ketabahan menghadapi segala ujian dalam hidup mereka mendapatkan perkah dari guru-guru suci dari tetuanya, bahkan dari bibinya (DEWI GANDARI). Pndawa pula sangan hormat dan sayang pada guru-guru suci, kepada orang yang lebih tua darinya dan kepada sesamanya penuh kasih.


Oleh : griyapucaksari | 05 Januari 2020 | Dibaca : 18 Pengunjung


Berita Lainnya :

Lihat Arsip Berita Lainnya :