NASIHAT NENEK KEPADA CUCUNYA, MENYAPU MERUPAKAN DASAR AWAL BELAJAR DAN BEKERJA

Oleh : griyapucaksari | 08 Januari 2020 | Dibaca : 59 Pengunjung

Kelecok……kelecok….kelecok. Suara paduan tempat penghacuran campuran inang dengan pemukulnya ( pengelocokan ) memecah keheningan seja yang semakin redup di tempat Nenek Nirmala. Sambil memukul-mukulan pengelocokannya Nenek Nirmala bersenandung irama geguritan sinom memperhatikan cucunya, Jametwati yang sedang menyepu halaman gubuknya.

Sesekali suara nenek terdengar menghalau anak-anak ayam yang yang mendekatinya. Setelah Jametwati menyapu seluruh halaman gubuknya, Nenek Nirmala memanggilnya. Perlahan cucu kesayangannya melangkahkan kakinya menuju Neneknya serta bertanya “ Ada apak, Nek?” . Nenek menyahut dengan suarayang enggak jelas karena bibirnya ada inang “Duduklah di samping Nenek, Nak, !”. Saat itu dalam hatinya Jametwati bertanya-tanya apa yang akan dibicarakan oleh Nenek. Neneknya pun mengawali pembicaraanya, “Nak, Nenek bangga sekali melihat kamu rajin, belajar menyapu, sebab setiap insan yang hadir ke bumi ini seharusny mengawali belajar bekerja hendaknya belajar menyapu. Jametwati sangat nyeletub, “Mengapa harus belajar menyapu Nek?”,”Begini Nak, Karena dari alat sapu ini saja sudah mengandung makna filosofis, sapu yang terdiri dari lidi dari daun kepala, kepala merupakan pohon yang serbaguna, sehingga begitu sudah mengenal pohon kelapa kita nantainya harus menjadi manusia yang serba guna seperti pohon kelapa itu.

Kumpulan lidi-lidi ini menujukan makna persatuan, bila satu lidi paling- paling berguna sebagai  cemeti untuk menyakiti orang atau binatang, tetapi bila lidi-lidi Bersatu menjadi satu, maka ia berguna untuk pembersihan, juga berguna untuk pembersihan, juga bermakna bahwa persatuan lebeih memeberikan makna dan berguna untuk bekerja dan tujuan yang lebih besar. Sapu yang berfungsi unuk memebersihkan akan dapat mencegah timbunya berbagai macam penyakit, keberhasilan akan memberikan suasana nyaman, asri dan indah semuanya itu akan mempengaruhi pikiran kita menjadi lebih tenang dan damai.

Bila kita renungkan, bahwa pekerjaan menyapu harus dikerjakan setiap hari secara rutin dan berkesinambungan selama kita masih hidup di dunia ini dan tak akan pernah habisnya. Bila sampah-sampah sudah habis maka kotoran yang lain seperti debu tetap muncul, maka dalam bait syair lagu Ginanda Eda Ngaden awak bisa pada bait : hilang luhu ebuk katah, wyadin ririh enu liyu paplajahin, yang artinya hilang sampah, debu yang masih banyak, walaupun kita pintar namun masih banyak pengetahuan yang perlu dipelajari.

Bait ini memberi gambaran kepada kita, bahwa kita tidak boleh sombong, takabur karena pengetahuan itu tidak pernah habisnya bakaikan aliran sungai Gangga yang tidak pernah surut, seperti pancaran sinar matahari tidak pernah padam,ini memberi kita petunjuk, bahwa kita harus selalu belajar dan belajar selama kita masih bernafas di alam semesta ini.

Setelah menyapu kita harus mengumpulkan sampah dan kotorannya lalu diambil, kemudian ditanam sebagai pupuk organik atau dibakar sampah-sampah yang tidak mau lapuk seperti plastik pada tempatnya. Hal ini menunjukkan kita harus memilah hal yang berguna dan tidak berguna, yang baik dan tidak baik, dari pekerjaan menyapu kita dapat mengetahui mana yang kotor dan mana yang bersih demikian pula mana hal yang benar dan mana hal yang tidak benar.

Para orang tua menasehati kita supaya sehabis menyapu tidak boleh membiarkan begitu saja, harus dikumpulkan dan diambil ditaruh pada tempat sampah yang telah ada. Jika menyapu tanpa mengumpulkan dan mengambil kumpulan sampah tersebut dan membuangnya pada tempatnya, suatu saat bila kita bekerja hasilnya akan diambil orang lain. Itu nasehat orang-orang tua kita dahulu. “Mengapa pekerjaan bisa diambil orang, Nek ?” tanya Jemetwati. Semua itu mengandung makna dan nasihat, bahwa kita harus menyelesaikan tugas itu sampai tuntas, maka barulah akan berguna. Jemetwati mangguk-mangguk dalam hatinya “benar juga nasihat itu jika menyapu tidak mengambil sampah yang terkumpul, bila ada angin atau hewan yang datang maka sampah-sampah itu akan berserakan kembali diterbangkan angin atau dikais oleh ayam misalnya, sehingga sia-sialah pekerjaan yang kita lakukan”. Jemetwati mangguk-mangguk karena apa yang dijelaskan oleh Nenek Nirmala tersebut memang benar, penuh makna dan sangat logis.

Sambil bibirnya bergoyang mengunyah, Nenek kembali menekankan kepada Jemetwati, bahwa nyampat (menyapu) merupakan dasar awal untuk belajar dan bekerja, oleh karena itu “Anakku jangan melupakan pekerjaan menyapu, dan jangan pernah meremehkan pekerjaan menyapu serta menyapu itu sendiri, karena pekerjaan itu sangat mulia!”. Dan “Ingatlah selalu lagu sebagai pedoman hidup yang didasari filosofi pekerjaan menyapu!”.

Nenek mengakhiri nasihatnya dengan menyanyikan lagu Ginanda di bawah ini bersama cucunya tersayang, Jemetwati.

 Eda ngaden awak bisa .

Depang anake ngadanin .

Gaginane buka nyampat.

anak sai tumbuh luhu.  

Hilang luhu ebuk katah.

Wyadinririh enu liyu papalajahin .

(Jangan merasa diri sudah bisa atau pintar Biarkan orang lain menyebutkannya Pekerjaan seperti menyapu Selalu ada sampah Hilang sampah masih ada kotoran debu Walaupun pintar masih banyak pengetahuan yang harus dipelajari). Syair lagu ini mengingatkan kepada kita, bahwa kita tidak boleh takabur, dan selalu belajar baik ilmu parawidya maupun aparawidya semasih kita hidup. Lagu ini terdengar sayup-sayup dan menyertai alunan suara kalung puluhan burung merpati yang menari-nari di atas awan senja mengantarkan tenggelamnya matahari menuju keparduannya ke ufuk barat. Di penghujung senja itu, Jemetwati pun pamitan dari Neneknya untuk mempersiapkan diri melakukan persembahyangan mohon kerahayuan kepada Ida Sang Hyang Widhi Wasa.


Oleh : griyapucaksari | 08 Januari 2020 | Dibaca : 59 Pengunjung


Berita Lainnya :

Lihat Arsip Berita Lainnya :