Nasihat Seorang Kakek, KEDAMAIAN BERAWAL DARI KESADARAN DIRI SENDIRI

Oleh : griyapucaksari | 22 Januari 2020 | Dibaca : 42 Pengunjung

 

Pada umumnya, jika ada sesuatu yang membeuat tidak menyenangkan atau menjengkelkan hati kita, sering kita tidak mau mencari penyebab atau sebumber dari kejengkelan tersebut dari dalam diri sendiri, tetapi mencari alasan atau penyebabnya dari luar diri, bahkan sering mencari kambing hitamnya. Sebenarnya sebelum kita memutuskan atau memvonis penyebab kejengkelan tersebut perlu diselidiki dan ditelusuri terlebih dahulu, sehingga tidak menimbulkan penyesalan dikemudian hari.

Seperti kisah seorang bocah kecil yang selalu kesal dan menggeritu gara-gara ulah seekor tikus kecil yang nakal selalu mengganggu di dapur rumahnya.

Tersebutlah seorang anak bernama Laraduta yang hidup Bersama seorang kakeknya yang bijak, kedua orang tuanya sudah tidak ada saat terjadi bencana alam di desanya sepuluh tahun silam. Setiap hari ia bermain seperti anak kecil lainya, tampaknya ia selalu ceria dan sering mengganggu kakaknya disaat disuruh oleh kakaknya, tetapi Laraduta adalah sesosok anak yang cerdas. Namun ada hal yang memebuat selalu kesal dan menggerutu bila ia masuk ruangan dapurnya karena makanaan yang disiapkan didapurnya selalu dimakan oleh tikus liar yang ada didapurnya dan sisanya berserakan membuat hati laraduta selalu kesal, sehingga tak jarang mengeluarkan kata-kata kengumpan si tikus nakal itu. Walaupun sebenarnya kakek Laraduta sudah sering menasehati agar jangan memaki dan membenci binatang, apalagi tikus yang serig disebut Jero ketu, jika semakin dimaki tikus itu akan semakin nakal dan rusuh  selalu mengganggu kita. Nasihat kakeknya seolah-olah tak pernah dihiraukan, masuk telinga kanan keluar dari telinga kiri Laraduta.

Pada suatu pagi, Kebetulan Kakeknya berada di rumah,sasmbil meneguk kopi hangat dengan ubi rebus bersama Laraduta, saat itu Laraduta mengampaikan kekesalanya terhadap kenakalan tikus yang ada di ruang daur. Kake yang bijaksana itu menyuruh Laraduta membersihkan dapurnya dengan sapu lidi dan menutup lubang-lubsng yang ada di dinding dapurnya dengan anyaman daun kelapa dan membuat tutup makanan dari dari anyaman bambu. Setelah itu kake yakin tidakada tikus yang berkelaran yang mengganggu di ruangan dapur. Kakeknya selalu menerangkan, bahwa kekesalanmu sendiri bersumber dari dirimu sendiri, jika kau selalu menjaga kebersihan dan kerapian alat-alat dapur setiap hari termasuk menutup tempat makanan yang baik, maka tidakakan ada binatang kecil mengotori dan mengganggu makananmu.kita seharusnya berterima kasih kepada tikus, karena tikus menyadarkan dirimu berbuat bersih dan memperhatikan rumah dengan baik. Setelah mendengar penjelasan kakeknya Laraduta sadar akan kekeliruanya, sejak itu ia berbuat sesuai dengan saran kakek serta tidak lagi mengumpat dan memeki tikus, karena sejak ia menyapu dan merapikan alat-alat dapurnya tidak ada lagi tikus yang dating. Ia sadar bahwa tikus memang senang tempat yang kotor, tidak beraturan dan selalu mencari makanan dimanapun pada tempat yang tersembunyi, kitalah yang harus menjaga kebersihan rumah dan menata rapi perabotan rumah tangga dengan baik. Bila kita hidup dalam suasana bersih, rapi dan sehat, maka tikus dan kecoakpun tidak mengganggu.

Sejak ia rajin membersihkan rumah dan menjaga kerapian alat-alat dapurnya, tikus itu tidakpernah dating lagi, perasaan bahasia dan damaipun bersemi dalam lubuk hati Laraduta. Pengalaman ini tidak pernah terlupakan oleh Laraduta. Ia sadar bahwa semua ia sesalkan adalah bersumber dari dirinya sendiri bukan berasal dari kesalahan tikus.

Ia baru sadar dan ingat, bahwa tikuskan punya dua premana( Sabda dan Bayu ) tidak punya idep, sedangkan kita sebagai manusia punya Tri premana ( Sabda, bayu dan idep ), Idep inilah yang harus diaktifkan, difungsikan serta dikembangkan. Dalam hatinya, Laraduta berbisik memang pengalaman adalah guru yang terbaik. Lalu ia bertanya dalam hatinya, bagaiman ya kalua manusia sampai kehilangan idepnya?

Demikian kisah yang dapat menggugah dan menentuh hati kita, bahwa kita tidak boleh hanya melihat dari sisi negative dan faktor luar diri kita, tetapi perlu perenungkan dan kesadaran Nurani untuk mencari sebab musibah mengapa sampai terjadi kesalahan, kejengkelan carilah terlebih dahulu dai dalam diri kita sendiri atau melaksanakan intropeksi diri kita sendiri atau melaksanaan intropeksi diri agar tidak sampaikehilangan idep kita. Memang benarkedamaian itu berawal dan diperoleh dari kesadaran diri kita sendiri.


Oleh : griyapucaksari | 22 Januari 2020 | Dibaca : 42 Pengunjung


Berita Lainnya :

Lihat Arsip Berita Lainnya :