NASIHAT KAKEK KEPADA CUCU-CUCUNYA, KENDALIKAN PIKIRANMU SAMPUNAN NGIRING PAKAYUNAN

Oleh : griyapucaksari | 22 Januari 2020 | Dibaca : 15 Pengunjung

 

Cahaya rembulan menembus celah-celah atap yang terbuat dari anyaman daun kelapa di gubuk Kakek Wicaksana, membuat wajah kakek keliatan cemerlang karena diterpa cahaya rembulan dan patulan cahaya di setiap uban yang ada pada rambut, alis, jenggot dan jampangnya yang berwana putih, pancaran matanya tajam tetapi hatinya sangat lembut memberi nasihat kepada cucu-cucunya yang dengan penuh perhatian berjajar di depan kakek.

Anak-anak seperti Dharma, Susila, Satya, Budi dan Ragu dengan penuh harap menantikan kisah yang disampaikan oleh kakeknya kecuali Ragu yang tampaknya sangat gelisah, karena Ragu mempunyai rencana mau mencuri buah mangga kakeknya yang ranum-ranum yang ada di belakang gubuk kakeknya. Kakek pun mulai mengawali ceritanya tentang Sang Bangau sebagai Pendeta Baka.

Sang Bangau yang biasanya pergi ke sungai mencari ikan-ikan sebagai makanannya dan selalu dapat menyantapnya dengan mudah. Suatu hari nasibnya memang apes, setelah menjelajahi sepanjang sungai dalam waktu yang lama tak seekor pun ia mendapatkan ikan sebagai makanannya.

Kemudian ia terbang ke sana ke mari, lalu ditemukannya sebuah taman yang di sekelilingnya penuh dengan tanaman rindang, di taman tersebut banyak ikannya yang selalu hidup damai dan bahagia bersama di antara mereka. Sang Bangau kemudian mengibaskan sayapnya dan menukik ke pinggir taman tersebut serta bertengger di pinggir taman yang airnya sangat bening dan sejuk.

Lama ia berpikir bagaimana caranya untuk mendapatkan ikan-ikan yang ada di kolam itu. Dasar Bangau rakus dan licik, muncullah ide jahatnya ia berpura-pura menjadi pendeta yang sedang sedih sekali memikirkan keadaan taman ini seolah-olah ada yang akan membongkarnya dan mengeringkannya untuk dijadikan sebuah bangunan tertentu.

Mulailah Sang bangau mengambil ancang-ancang tipu muslihatnya dengan merundukkan kepala serta meneteskan air mata bertengger dengan sebuah kakinya. Di tengah kolam, muncullah beberapa ikan sedang bercanda ria, saling kejar mengejar di antara sesamanya. Ada salah satu ikan kepalanya tersembul ke permukaan air serta melihat Sang bangau, Sang Pendeta Baka sedang pilu hatinya. Ikan yang melihat Sang Pendeta Baka menghampirinya dan bertanya : “Wahai Pendeta mengapa paduka dalam keadaan sedih dan apa yang terjadi ?” Pendeta Bakapun menjawab dengan kata-kata yang tersendat-sendat celegukan seolah-olah sehabis menangis : “Anakku, kini aku tidak lagi membunuh, saat ini aku sangat sedih sedang memikirkan nasib kalian semua” Ikan tadi menanyakan kepada pendeta : “mengapa paduka harus memikirkan nasib kami ?”. “Begini anakku, sebentar lagi taman ini akan dikeringkan dan akan dirusak, rencannya akan dibuat bangunan bertingkat, itulah sebabnya aku sangat sedih dan sedang memikirkan tempat baru kalian !” Ikan yang kena pengaruh kebohongan Sang bangau langsung mukanya pucat dan permisi untuk menyampaikan berita duka ini kepada teman-temannya yang lain. Sang Pendeta Baka pun sangat gembira dalam hatinya karena tipuannya mengena. Sesaat kemudian semua ikan-ikan mendekati dan menghampiri Sang Bangau, memohon bantuan kepadanya. “Paduka tolong hamba semua biar bebas dari kehancuran dan kematian, bisakah paduka menunjukkan tempat yang lebih baik agar hamba dapat hidup ?”. Pendeka Baka lalu menjawab “Anak-anakku, sebenarnya aku tahu tempat hidup kalian yang baik, namun tempatnya jauh dari sini. Taman itu jauh lebih besar, pohon-pohonnya besar dan rimbun, airnya jernih dan banyak tumbuh-tumbuhan sebagai makanan kalian. “Ikan-ikan yang lainnya bersamaan berteriak tolong hamba paduka, kasihani hamba paduka !”. Baiklah demi keselamatan kalian akan aku bantu, itu memang kewajibanku, tetapi bergilir!”. Semua ikan-ikan berbutan mau ikut, ada yang di sayap, di leher, di setiap tubuhnya penuh dengan ikan-ikan. Sebelum berangkat terbang Sang Bangau menyarankan agar selama penerbangan tidak boleh melihat ke bawah dan tak bisa bicara, bila berbicara kalian akan jatuh dan sudah tentu nanti mati digoreng manusia atau dimakan ayam atau anjing yang lewat ! “Semua ikan yang mendapat giliran terbang pertama mengikuti saran Sang Pendeta.

Terbanglah Sang Bangau membawa ikan-ikan yang bergelantungan di setiap bagian tubuhnya, dengaan mudah Sang Bangau membawanya ke tempat sepi dan panas terik di atas batu yang permukaannya sangat lebar, di sanalah ikan-ikan itu dihempaskan, tidak sempat berbicara ikan-ikan itu dibantai di atas batu dan dihabisinya satu per satu, yang tinggal hanyalah rangka ikan-ikan tersebut.

Setelah menghabisi ikan-ikan tersebut, Sang Bangau yang sebelumnya kelaparan kini perutnya sudah terganjal, kini akan kembali menjemput mangsanya ke taman semula. Sesampainya di pinggir kolam, tampak ikan-ikan telah berjajar berebutan menunggu giliran berangkat untuk dipindahkan ke tempat yang baru seperti kata Pendeka Baka.

Setelah ikan-ikan bergelayutan disayap, ekor dan dibagian tubuh lainnya, berangkatlah Sang Bangau menuju tempat pembantaian ikan-ikan tadi, demikian berulang-ulang dilakukan oleh Sang Bangau.

Terakhir masih tertinggal Si Kepting, yang sebelumnya telah mempunyai firasat dan kecurigaan terhadap Sang Bangau, karena dalam pikirannya kenapa Sang Bangau yang sebelumnya sebagai pemakan ikan kemudian tiba-tiba berubah menjadi baik hati.

Datanglah Sang Bangau ingin mengajak Si Kepiting, namun Si Kepiting minta bergelantungan di leher Sang Bangau. Si Kepiting yang bergelantungan di leher Sang Bangau diterbangkannya menuju tempat teman-temannya yang lain. Setelah dekat tempat yang dituju, Si Kepiting melihat di atas batu besar dan suasananya panas terik berserakan tulang-tulang teman-temannya, untuk memastikan sedikit mencekik leher Sang Bangau menyuruh menuju lebih dekat dengan tempat itu, setelah yakin, dicekik lebih keras leher Sang Bangau, Si Kepiting menyuruh Sang Bangau kembali ke tempat kolam semula sambil memaki Sang Bangau “Dasar penipu, pendusta, pembunuh, cepat kembali ke tempatku semula, jika tidak lehermu akan kuputuskan !” Geram sekali Si Kepiting “Ampun…ampun…ampun !” Bangau memelas kepada Si Kepiting minta pengampunan, sambil sambil membelokkan sayapnya kembali sambil berkata : “Baiklah kita Kembali”. Setelah sampai di pinggir kolam, Si Kepiting berbicara kepada Sang Bangau sebelum melepaskan kapitnya di leher Bangau : “Hai Pendeta Pendusta !, Bangau Penipu, penjahat kau telah menghancurkan dan membunuh teman-temanku, maka terimalah hukuman keserakahan dan penipuan yang kau lalukan !” Si Kepiting pun langsung mencekek leher Bangau sampai putus, akhirnya Bangau penipu itupun terkapar kepalanya terpental mencium bumi untuk selamanya. Kepiting pun kembali merayap menelusuri celah-celah batu menuju air yang sejuk dan tenang.

Nah, cucuku itulah akibat ulah orang yang berbuat pembohong, serakah, pendusta, penipu berpura-pura baik tetapi pikirannya jahat untuk kepentingan dirinya sendiri. Anak-anak yang mendengarkan manggut-manggut, kecuali Ragu mukanya merah dan menyadari pikirannya untuk mencuri diurungkannya setelah menengar cerita Sang Pendeka Baka. Kakek yang memperhatikan muka wajah merah pada Ragu. “Ada apa Ragu, kok kelihatannya kamu gelisah dari tadi ?” . Tidak apa-apa, Kek !” Sahut Ragu. Kakek melanjutkan nasihatnya kepada cucu-cucunya.

Oleh karena itu, cucu-cucuku selalu berhati-hati, waspadalah jangan sampai terkena rayuan penipuan yang sampai yang menghanyutkan yang mengakibatkan kehancuran diri kita. Demikian juga jangan mengikuti jejaknya Sang Bangau tersebut. Ingatlah ! Kebohongan adalah pangkal kejahatan. Belajarlah hidup yang jujur, kerena apapun alasannya ketidak jujuran adalah ketidak benaran. Apa artinya hidup dalam kebohongan ? Lebih baik jangan minum dari pada minum air got!”. Setelah berkata demikian Dharma nyeletuk, apa maksudnya itu, Kek ?”. “Artinya kita lebih baik tidak makan dari pada makan dengan cara yang tidak benar, misalnya dengan cara mencuri, makanlah makanan yang didapat dari hasil pekerjaan yang benar dan halal !”. “Kita perlu belajar mengendalikan pikiran, sebelum melakukan keputusan untuk berbuat !”.

Setelah mendengar paparan Kakek, dengan memberanikan diri Ragu menyampaikan apa yang ia pikirkan dari tadi dan mohon maaf kepada Kakek, karena ia ingin mencuri mangganya Kakek sebelum Kakek bercerita. Kakek yang bijak dengan senyum mengatakan : “Cucuku sudahlah, belajarah mengendalikan pikiranmu, kakek bangga kepadamu karena kau telah mampu mengendalikan pikiranmu, membatalkan niatmu untuk mencuri ! Janganlah selalu “Ngiring Pakayunan !” Ragu tidak mengerti, apa yang dimaksud Ngiring Pikayunan, Kek ?” Ngiring Pikayunan artinya hanya mengikuti keinginan pikiranmu sendiri tanpa memikirkan dan mempertimbangkan akibatnya atau semau gue, jawab Kakek. Jika kamu ingin mangga mintalah kepada Kakek!”. Kakek lalu mengajak ke kebunnya, lalu mereka ramai-ramai makan mangga harum manis dengan riangnya mengisi malam minggu yang bahagia.

Akhirnya, kakek mengatakan kepada Ragu, “Kendalikanlah pikiranmu !” Dengan pengendalian pikiran kamu akan memperoleh ketenangan, kebahagian dan kedamaian. Sampunang Ngiring Pakayunan Padidi !” (Jangan semau gue !”) yang diikuti tawa ria ol


Oleh : griyapucaksari | 22 Januari 2020 | Dibaca : 15 Pengunjung


Berita Lainnya :

Lihat Arsip Berita Lainnya :